04 Feb

3 Rules of Success in Building Top Brand

Posted By Admin | 04 Feb 2015

Tahun 2015 ini adalah penyelenggaraan dan publikasi survei Top Brand Index yang ke 16. Setelah melakukan survei Top Brand Index dalam kurun waktu yang panjang ini, serta melibatkan pengukuran tidak kurang dari 2000 merek, tentunya banyak proses pembelajaran bagi marketer di Indonesia. Sampai saat ini, survei Top Brand Index adalah survey merek yang paling lama di dunia yang pernah dipublikasikan oleh media.

Tidak mengherankan, pertanyaan yang banyak saya peroleh dari para pemilik merek adalah “apa yang membedakan perusahaan yang memperoleh Top Brand dan perusahaan yang tidak memiliki merek Top Brand? Apa faktor utama atau driver terpenting bagi perusahaan yang mampu terus menerus mempertahankan Top Brand Award selama 16 tahun?”

Demikian juga saat berbincang dengan tim redaksi Majalah Marketing. Setelah menganalisa berbagai strategi perusahaan pemenang Top Brand selama bertahun-tahun, akhirnya kembali kepada pertanyaan yang fundamental. Apa yang menjadi inti sari pembelajaran dari hasil survei Top Brand Index? Adakah kesimpulan besar yang dapat dijadikan sebagai aturan atau hukum dalam membangun merek di Indonesia?

Ternyata, fundamental kesuksesan membangun merek tidak sulit untuk dirumuskan. Dengan cepat, dari analisa dan pengalaman bertahun-tahun serta intuisi, saya mencoba merumuskan 3 Rules of Success dalam membangun Top Brand. Rule pertama adalah Quality Before Price. Kedua adalah Innovation Before Cost dan Ketiga adalah Engagement Before Sales.

Walau mungkin kontribusi masing-masing rule ini dalam menciptakan kesuksesan membangun merek tidak sama besarnya, tetapi 3 Rules of Success ini , saya yakin, mampu untuk membedakan winner dan looser dalam persaingan membangun merek yang kuat. Dalam tulisan ini, saya mencoba memberikan penjabaran singkat untuk masing-masing rule.


Rules 1 : Quality Before Price

Perusahaan yang memiliki Top Brand adalah perusahaan yang dipimpin oleh jajaran manajemen yang percaya akan pentingnya kualitas, baik kualitas produk atau kualitasl ayanan, tergantung dari industry dimana mereka berada di dalamnya. Mereka sangat yakin dan memiliki komitmen, bahwa kualitas adalah cara terbaik untuk bersaing.Pemikiran akan kualitas sangat mendominasi dibandingkan untuk tergoda untuk bersaing dengan harga murah.

Mereka percaya bahwa kualitas akan menciptakan keuntungan yang lebih baik. Keuntungan yang lebih baik akan membuat perusahaan mampu untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Karena kepercayaan terhadap kualitas, perusahaan mendapatkan banyak inspirasi dan siap untuk melakukan proses pembaruan. Sederhana! Kualitas adalah senjata untuk membagun Top Brand yang tidak akan terbantahkan.

Dari seluruh pemenang Top Brand seperti merek-merek milik perusahaan Unilever, Indofood, Astra, BCA dan ratusan pemegang Top Brand, saya yakin, hampir 100 persen adalah perusahaan yang memang memiliki keyakinan yang kokoh akan pentingnya kualitas.

Kalau ditanyakan kepada banyak perusahaan yang belum memiliki merek Top Brand, apakah mereka juga tidak memiliki keyakinan akan pentingnya kualitas? Mungkin setengahnya menjawab ya..bahwa mereka mementingkan kualitas.

Perbedaan yang menonjol adalah apakah benar-benar mereka memiliki energy untuk melakukan perbaikan kualitas? Apakah perusahaan ini jelas memiliki visi, misi dan filosofi perusahaan yang berlandaskan akan pentingnya kualitas? Apakah perusahaan ini memiliki system pengukuran kinerja yang berbasis kualitas? Apakah mereka melakukan investasi yang memadai untuk mendukung terciptanya produk atau layanan berkualitas. Jawaban-jawaban atas sebagian pertanyaan ini akan member gambaran yang lebih jelas bahwa keyakian dan komitmen mereka tidaklah mendalam atau bahkan sebagian hanya di permukaaan.

Rules 2 : Innovation Before Cost

Dengan perubahan pasar yang dinamis terutama perubahan perilaku konsumen dan pelanggan, hanya perusahaan yang selalu mengedepankan inovasi yang mampu membangun merek yang kuat. Perusahaan-perusahaan ini, selalu mengedepankan inovasi untuk menciptakan diferensiasi. Perusahaan mengedepankan efektifitas dan bukan semata focus untuk melakukan efisiensi dan menekan biaya di semua lini.

Perusahaan-perusahaan Top Brand ini selalu melakukan inovasi untuk melihat pasar yang baru dan pasa kedepan. Mereka melihat kesempatan untuk mengembangkan bisnisnya dengan berbagai inovasi. Inovasi yang terbanyak memang focus terhadap pengembangan produk baru, baik peningkatakan fitur maupun meluncurkan produk baru.

Sebagian melakukan inovasi untuk pemasaran seperti dalam komunikasinya. Ini adalah yang terbanyak kedua dalam konteks inovasi. Sebagian menciptakan komunikasi yang kreatif dalam hal pesan maupn media yang digunakan. Mereka menggunakan media baru seperti media internet dan mobile. Sebagian perusahan yang lebih radikal, menciptakan inovasi dalam hal pengembangan channel.

Perusahaan-perusahaan pemenang Top Brand, rata-rata memilki bujet pengembangan produk dan layanan yang lebih besar. Mereka memiliki infrastruktur yang baik untuk membuat proses inovasi berjalan lancer dan lebih cepat. Perusahaan ini, relatif memiliki hambatan yang lebih sedikit dalam menciptakan inovasi. Perusahaan-perusahaan yang mereknya lemah, biasanya dikelilingi dengan banyak masalah seperti tidak cukupnya dana dan kurangnya motivasi untuk melakukan inovasi.

Perusahaan-perusahaan yang inovatif ini, biasanya jauh lebih sensitive terhadap pasar. Mereka selalu mendasarkan strateginya berdasarkan outside-in. Perusahaan pemilik Top Brand ini, terbukti memiliki bujet dan sumber daya manusia yang lebih baik untuk melakukan survey pasar dan berbagai aktifitas untuk mendeteksi kebutuhan dan keinginan pasar.

Kecepatan rata-rata perusahaan pemenang Top Brand ini dalam meluncurkan produk baru, kira-kira 2 hingga 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang mereknya lemah. Mereka berani mengambil resiko dengan mengkanibal merek-merek mereka sendiri untuk tetapm empertahankan pangsa pasar.

Rules 3: Engagement Before Sales

Perusahaan pemenang Top Brand ini, memiliki paradigma yang kuat bahwa bisnis haruslah didasarkan atas relationship dan bukan transaksional. Ini biasanya sangat terlihat dari perusahaan-perusahaan pemenang Top Brand yang berasal dari industry jasa.

Perusahaan pemilik Top Brand, melihat konsumen dan pelanggan sebagai aset yang besar. Bagi perusahaan ini, menjaga loyalitas melalui proses pembangunan relationship menjadi prioritas yang penting. Beberapa strategi relationship yang ditunjukkan oleh merek Top Brand ini dengan mudah terlihat. Pertama, mereka sangat berkomitmen terhadap kepuasan konsumen dan pelanggan. Kedua, sebagian besar perusahaan akan mengembangkan berbagai cara untuk membentuk komunitas. Ketiga, perusahaan sangat terlihat memiliki banyak program yang berupaya untuk menciptakan bonding dengan konsumen atau pelangggannya. Langkah yang mereka siapkan, terutama untuk perusahaan yang bergerak di bidang jasa adalah dengan membentuk database yang terstruktur maupun tidak terstruktur melalui social media.

Struktur organisasi dari perusahaan Top Brand ini juga lebih berorientasi kepada pelanggan. Berbagai departemen yang berhubungan dengan konsumen atau pelanggan lebih luas dan mendapatkan alokasi yang memadai. Misalnya, mereka memiliki departemen CRM, Channel Management atau yang bertanggung jawab terhadap layanan pelanggan.

Siapa yang bertanggung jawab untuk membuat perusahaan mengikuti 3 rules of success ini? Sudah pasti adalah top manajemen yaitu CEO dan jajaran direksinya. Paradigma, mind-set dan strategi yang mereka rumuskan, akan sangat menentukan apakah perusahaan sudah menciptakan budaya perusahaan yang berjalan sesuai dengan hukum atau aturan dasar kesuksesan ini. Harapan saya, Top Brand Index ini memberi inspirasi bagi banyak pelaku bisnis di Indonesia untuk membangun perusahaan yang mampu melahirkan Top Brand.

Dapatkan Artikel Terbaru Top Brand

Silakan Masukan Email Anda.

Delivered by FeedBurner